Konten [Tampil]
Ilustrasi kurikulum (sumber foto:pixabay.com)

Hingga saat ini, kurikulum dianggap menjadi salah satu faktor utama dalam menentukan kualitas pendidikan. Kurikulum diantaranya berkaitan dengan isi atau materi yang diajarkan kepada peserta didik. Kurikulum diartikan sebagai sejumlah mata pelajaran tertentu yang ditempuh atau dikuasai untuk mencapai suatu tingkat tertentu atau ijazah.

Indonesia termasuk negara yang paling sering sekali gonta-ganti kurikulum, mulai dari Kurikulum 1947, Kurikulum 1952, Kurikulum 1964, Kurikulum 1975, Kurikulum 1984, KTSP 2006, Kurikulum 2013 (K13), Kurikulum Merdeka, dan sekarang dibawah menteri yan baru, Abdul Mu'ti diganti lagi menjadi Kurikulum Deep Learning. 

Jadi ungkapan "ganti mentri, ganti kurikulum" itu fakta. Dan dari dulu hingga sekarang alasannya pun selalu klasik, kurikulum harus berubah, karena kurikulum harus disesuaikan dengan perkembangan zaman, katanya. Para guru mau gak mau, suka tidak suka harus menyesuaikan kurikulum yang baru, terutama administrasinya mulai dari format pembelajaran hingga format penilaian.

Pada kurikulum merdeka, misalnya. Katanya guru tidak akan terlalu dibebankan administrasi, faktanya guru masih disibukan dengan urusan administrasi. Di awal-awal, setiap adanya pergantian kurikulum, guru diminta untuk tidak khawatir, karena kurikulum sekarang juga tidak jauh berbeda dengan kurikulum sebelumnya. Di sini justeru problemnya, jika memang tidak jauh berneda, kenapa harus ganti kurikulum? 

Di sisi lain, kurikulum berubah, tapi disaat yang sama dikatakan juga kurikulum yang sekarang tidak jauh berbeda. Inilah yang dimaksud setiap gonta-ganti kurikulum tidak mencerminkan hal-hal yang esensial dalam kurikulum. Jadi setiap ganti kurikulum hanya ganti kemasan saja, isinya tetap sama itu itu saja. Ibaratkan seperti jualan makanan, kemasannya saja yang berbeda, padahal isinya tetap sama.  

Setiap pergantian kurikulum tidak ada perbedaan yang berarti. Di dalamnya tetap sama, ada mata pelajaran, rencana pembelajaran, tujuan pembelajaran, kompetensi yang ingin dicapai, dan evaluasi pembelajaran. Di semua kurikulum unsur-unsur ini ada, yang berubah hanya kemasannya, atau pada penyebutan istilah-istilah, misalnya; PPKn menjadi PKn, di SD, IPA, IPS disatukan menjadi IPAS. Jadi, hanya permainan istilah saja.

Dalam kurikulum merdeka misalnya, guru harus membuat refleksi bahwa kurikulum ini relevan. Padahal, sebenarnya mereka terpaksa, karena harus melaksanakannya demi penilaian, demi raport sekolah, akhirnya guru dibebani oleh refleksi di Platform Merdeka Mengajar (PMM). Kemudian juga terkait cara mengajar yang katanya harus berpusat pada siswa (studnet learning center). Padahal konsep ini sejak dulu sudah ada dan tidak mesti dijadikan paradigma dalam kurikulum. 

Dalam konteks ini, pembelajaran yang berpusat pada siswa hanyalah salah satu metode atau pendekatan mengajar. Maka sebagai metode atau pendekatan mengajar, tidak mesti dibakukan dalam kurikulum,. Kenapa? Karena setiap anak memiliki karakteristik yang unik atau berbeda baik dalam aspek emosional maupun intelektual. Metode belajar itu, bukan berkaitan dengan kurikulum tetapi berkaitan dengan kompetensi mengajar setiap masing-masing gurunya.

Kita tahu bahwa setiap siswa adalah unik. Ada beberapa siswa secara emosional dan intelektual bagus, ada siswa yang hanya emosionalnya saja yang bagus, kumudian ada juga siswa yang hanya intelektualnya saja yang bagus, dan ada juga siswa yang memiliki masalah pada keduanya. Artinya, metode mengajar harus disesuaikan dengan gaya belajar siswa, lalu kenapa pendekatan pembelajaran berpusat pada siswa itu seolah menjadi sesuatu yang wajib dalam kurikulum. Biarkan saja guru menyesuaikan metode mengajar dengan cara mereka masing-masing.

Jika kurikulum membutuhkan evaluasi dan harus diganti, namun seharusnya bukan sekedar kemasannya saja. Unsur-unsur dalam kurikulum yang ditetapkan secara baku harus dievaluasi dan sisesuaikan dengan kebutuhan zaman saat ini. Jangan sampai, ada gap antara yang diajarkan di sekolah dengan yang mereka hadapi di kehidupan nyata setelah lulus. Jika hal itu terjadi, yang rugi adalah mereka karena harus mengorbankan biaya, tenaga dan waktunya sedangkan yang mereka dapatkan selama sekolah nihil. Kongkritnya, ketika sudah lulus mereka bingung, karena tidak punya kemampuan yang sesuai.

Kurikulum Harus Relevan

Saya sepakat bahwa kurikulum harus disesuaikan dengan perkembangan zaman. Tapi sejauh ini, kurikulum pendidikan hanya sekedar gonta ganti kemasan saja, sedangkan isinya kurang mendapatkan perhatian. Ibaratkan makanan, antara kemasan dan isinya harus sesuai, supaya rasanya juga enak. Begitu juga dengan pendidikan, bukan saja kurikulumnya yang harus dievaluasi tetapi isi dalam kurikulum itu juga harus dievaluasi, ditambah lagi bukan sekedar tentnag kurikulum tetapi juga sarana dan prasaranaya harus memadai.

Menurut saya, salah satu poin penting dalam kurikulum adalah mengenai mata pelajaran, tujuan pembelajaran, dan evaluasi pembelajaran. Jadi fokus pada input, proses, output. Misalnya, terkait mata pelajaran yang diajarkan di sekolah, kita refleksikan, jika kurikulum harus diesuaikan dengan perkembangan zaman, maka apakah materi pelajaran yang diajarkan di sekolah masih relevan? apakah harus ada yang ditambah atau dikurangi? Dalam kurikulum perlu ditetapkan dengan jelas apakah mata pelajaran yang diajarkan itu masih relevan atau tidak. 

Jangan sampai siswa diajarkan oleh sesuatu yang tidak perlu, yang hanya membuang-buang energi saja. Ini sebetulnya yang menyebabkan kenapa pendidikan kita tidak maju, karena banyak mata pelajaran yang diajarkan jauh dari kehidupan nyata mereka. Hal ini berkaitan dengan paradigma pendidikan yang kita anut. Jadi paradigma pendidikan menentukan orientasi pendidikan. Jika pendidikan memiliki tujuan praktis untuk memenuhi pasar tenaga kerja, maka mata pelajaran yang diajarkan di sekolah harus sesuai dengan kebutuhan pasar tenaga kerja tersebut. 

Saya tahu, secara umum, pendidikan pasti bertujuan membentuk peserta didik secara utuh, bukan hanya supaya memiliki pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga harus memenuhi aspek moral dan spiritualnya. Tetapi, sejak awal dilakukan pemisahan ilmu pengetahuan menjadi berbagai cabang ilmu adalah dampak perkembangan sistem sosial-ekonomi untuk memenuhi pasar tenaga kerja, jadi hal yang naif ketika tujuan pendidikan hanya sekedar memberikan soft skill tanpa dibarengi hard skill. Kalau dalam pendidikan Islam keduanya harus seimbang antara tujuan duniawi dan ukhrawi. 

"Kemiskinan dekat dengan kekufuran," (HR. Abu Na'im).

Maksud saya selain pendidikan bertujuan membentuk moral, pendidikan juga selalu mencari ukuran kesuksesan materi sebagai kebutuhan dasar manusia, karena tujuan pendidikan tidak lepas dari tujuan materi. Maka, antara yang dipelajari oleh siswa di sekolah harus sesuai dengan tantangan dan kebutuhan hidup secara nyata. Misalnya, digitalisasi berdampak pada kebutuhan tenaga kerja diberbagai sektor, baik pada intansi pemerintah maupun swasta. Maka semua lembaga melakukan digitalisasi dalam tata kerja dan pelayanannya. Sehingga ini menjadi tantangan bagi lembaga pendidikan itu sendiri.

Ini berkaitan dengan salah satu fungsi pendidikan untuk menyiapkan generasi yang unggul dan terampil. Di sinilah peran kurikulum, di mana kurikulum harus relevan, jangan sampai apa yang peserta didik pelajari di sekolah dan perguruan tinggi itu jauh dari tantangan zamannya. Bila perlu kurikulum yang didesain bisa menghadapi tantangan di masa depan, misalnya apakah perlu menambah pelajaran coding dan Artificial Intlegence (AI) di sekolah? Nah, ini menurut saya ini relevan, karena sesuai dengan tantangan hari ini. 

Siswa harus diajarkan bagaimana tentang cara memanfaatkan teknologi di era digitalisasi. Mereka harus disiapkan supaya menjadi pencipta, bukan sekedar pengguna. Keterampilan semacam ini harus mereka miliki sejak sekarang, karena situasi sekarang sudah berbeda dengan dulu, banyak pekerjaan yang sudah terotomatisasi. Maka sekolah harus harus menyiapkan peserta disik yang melek teknologi, seperti mengelola manajemen media sosial, karena saat ini platform media sosial seperti instagram dan facebook sudah bertranformasi menjadi sumber mata pencaharian. 

Sementara itu, untuk mata pelajaran yang lain perlu ada penyesuaian. Menurut saya, tidak mesti semua mata pelajaran diajarkan kepada siswa, jadi mata pelajaran diajarkan sesuai kebutuhan dan minat siswa, karena apabila dipaksakan itu hanya akan membuat stres mereka. Yang paling penting adalah kemampuan literasi, baik keterampilan membaca, berbicara, menulis, menganalisis dan berpikir kritis. Kemampuan, dasar ini harus terus dilatih, dan disamping itu sebagai capaian keterampilan hard skillnya mereka juga harus punya keterampilan dalam menggunakan teknologi baik AI atau pun dasar-dasar software enginering atau coding. Maka inilag yang dinamakan sebaliknya, kurikulum bukan sekedar kemasan, tetapi isinya sesuai dengan tantangan zaman.