![]() |
Ilustrasi lulusan sarjana (sumber gambar:pixabay.com) |
Saya sudah membuka mata, kalau saya hidup era sekarang, bukan di era dulu lagi. Saya hidup di era di mana pekerjaan sudah semakin susah, yang lulusan sekolah sudah banyak, jangankan yang SMA yang sarjana saja sudah membeludag di mana-mana. Sulitnya pekerjaan tidak melihat pendidikan. Itu adalah kenyataannya, maka, tidak ada yang mesti dibanggakan menjadi sarjana di era sekarang dan memang hidup bukan untuk dibangga-banggakan.
Dulu menjadi sarjana adalah istimewa, apalagi yang dari kampung, jauh-jauh datang ke kota hanya untuk kuliah, kadang jual sawah dan tanah demi menyandang gelar sarjana. Saya membawa harapan, bahwa dengan kuliah dapat dengan mudah memperoleh pekerjaan. Saya juga pernah berharap dengan kuliah bisa merubah keadaan. Tapi sekarang, saya sadar bahwa kuliah bukan tentang selembar ijazah.
Saya sering mengatakan kepada orang tua saya, Pak, Bu, sarjana sudah tidak lagi istimewa! Saya mengatakan itu sebagai pengingat, bahwa sekedar kuliah saja, pulang pergi kuliah hanya untuk selembar ijazah lebih baik tidak mesti kuliah, karena hanya akan menjadi beban orang tua saja. Di era sekarang orang yang punya ijazah itu banyak, dan akhirnya yang membuat bertahan itu bukan selembar ijazahmu tapi skillmu!.
Tapi saya mencoba memahami juga bahwa bukan ijazahnya yang salah, bukan kampusnya yang salah, tetapi mindset sayalah yang salah karena menjadikan kuliah hanya untuk dapat ijazah, padahal yang merubah kita, keadaan kita, nasib kita, itu bukan ijazah tapi ilmu pengetahuan, keterampilan, dan relasi yang kita bangun selama kuliah. Ijazah bukan penentu, ijazah hanya tanda bahwa kita pernah kuliah, bukan tanda kita pernah berpikir. Saya sering renungkan kalimat itu.
Suatu hari ada seorang sarjana yang sedang menggergaji mesin di sebuah kampung dengan memakai baju wisuda sarjana. Ia mengatakan tidak ada yang istimewa menjadi seorang sarjana, juga tidak lagi mesti dibangga-banggakan. Tapi dia mengatakan itu bukan posisi sebagi pengangguran, dia punya skill dan relasi dimana-mana, dan itu bukan karena ijazah. Dia ingin menunjukan bahwa yang terpenting dari kuliah adalah pengalaman, pengetahuan, wawasan, keterampilan dan relasi yang banyak.
Ia juga mengatakan, tidak ada yang mesti dibanggakan dari menjadi seorang sarjana, hal itu sekarang ini biasa saja, tidak ada yang istimewa, karena semua mahasiswa yang kuliah pasti mendapatkannya, dan itu sudah biasa. Ketika banyak yang punya ijazah, maka ijazah itu tidak penting, yang paling penting kamu sudah tau apa, kamu sudah bisa apa, kamu sudah punya jaringan kemana saja? Tapi sebagian orang akan bilang, "Ya kalau sudah kuliah gimana tuhan saja,". Bayangkan, pemikiran seorang sarjana semacam itu.
Kita harus mulai merubah mindset jangan sampai mindset asal kuliah menjadi warisan kepada generasi berikutnya. Tapi bagaimana dengan kami yang sudah terlanjur punya ijazah? Simpan saja ijazahmu, jangan malu untuk terus belajar lagi, belajar skill baru, belajar pengetahuan baru, temukan orang yang membawa magnet positif terhadap hidup kita, bangun relasi sebanyak-banyaknya. Itu yang lebih penting di era sekarang. Bahkan, seorang ilmuan pernah menulis sebuah buku, matinya kepakaran. Ia pesimis terhadap lembaga pendidikan, karena di era teknologi dan informasi sekarang siapapun bisa menjadi ahli di bidangnya tanpa ijazah.
Pak, Bu, sarjana sudah tidak lagi istimewa!, ada sekitar 1,4 juta lulusan sarjana dari semua jurusan dan perguruan tinggi di Indonesia, sedangkan hanya ada 141 ribu 866 total lowongan pekerjaan. Artinya akan ada banyak yang tidak bekerja, dan akan ada banyak orang yang bekerja tidak sesuai jurusannya. Dan menurut Badan Pusat Statistik (BPS) ada sekitar 452 ribu 713 lulusan S1,S2 dan S3 tidak bekerja. Ini bukti bahwa sarjana sudah tidak istimewa, tidak penting apapun jurusannya, karena yang dibutuhkan sekarang adalah ketekunan, keterampilan dan relasi.
Pada akhirnya, kita dipaksa untuk menerima kenyataan meskipun pahit. Tetapi kenyataan ini bisa menjadi pengingat, bahwa menjadi sarjana saja tidak cukup, dan tidak ada sesuatu yang istimewa. Dengan kuliah seharusnya menjadikan mindset kita terbuka, akan pentingnya belajar, bergaul dengan orang-orang yang membicarakan ide, mimpi besar sehingga kita punya tujuan yang jelas. Kesempatan hanya sekali, menjadi muda hanya sekali, dan hanya orang yang mampu memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya lah yang akan berhasil.
Kita juga tidak bisa menyalahkan siapapun atas apa yang kita dapatkan, dan mari kita belajar bijaksana dalam menyikapi persoalan, bahwa selalu ada harapan bagi mereka yang mau bersungguh-sungguh. Barangkali, kita belum maksimal belajarnya, barangkali kita belum maksimal dalam menjalin relasinya, dan barangkali kita terlalu angkuh, pernah menganggap orang lain tidak penting. Kita harus konsisten belajar, selalu optimis baik dalam keadaan susah maupun senang. Ingat, bahwa hidup dihasilkan dari apa yang kita beri bukan dari apa yang kita terima. Saya sering memotivasi diri, percayalah dan teruslah belajar dan jangan pernah putus asa.
Tidak ada komentar