Konten [Tampil]
Ilustrasi

Orang awam bertanya-tanya apa yang dimaksud dengan "jangan mencari uang, tapi biarkan uang mencari kita?," Ini agak lain dari apa yang secara umum kita pahami selama ini, bukankah kita yang harusnya mencari uang, tapi kenapa ko malah sebaliknya? Nah, melalui tulisan ini saya akan menjelaskannya. 

Ibu saya dulu pernah menasehati saya agar sungguh-sungguh dalam belajar. Waktu itu masih pagi, Ibu memasak nasi di tungku. Saya jongkok didepan tungku itu, memakai seragam sekolah, sambil bakar pisang mentah. Kala itu saya masih SD. Ibu bilang, "yang bener sekolahnya, supaya uang yang mengejarmu nanti, bukan kamu yang mengejar uang," ucapnya.

Ibu tidak menjelaskan apa maksudnya. Saya juga tidak bertanya, karena kalau dinasehati orang tua, saya selalu mengiayakan saja. Suatu saat saya akan memahami apa maksud dari ucapan Ibu saya tadi. Dan benar saja, sekarang saya mengerti apa yang beliau katakan. Nasehatnya itu sampai sekarang masih terngiang dipikiran saya.

Kita juga pernah mendengar nasehat, semakin kita mengejar uang, maka uang itu semakin jauh dan rasanya sulit kita dapatkan. Dua pernyataan filosofis ini sebetulnya mengandung makna. Kalau kita memahaminya, kita tidak akan terlalu dibuat stres karena uang. Berapa banyak orang yang bekerja keras, bertahun-tahun, badan capek tapi uang tidak pernah mereka dapatkan. 

Jadi, jangan mencari uang, maknanya bukan berarti kita diam saja kemudian uang mengejar kita, bukan seperti itu. Maksudnya, jangan gantungkan tujuan hidup kita untuk mencari uang, karena uang itu konsekuensi dari apa yang kita kerjakan. Sama halnya kuliah, kalau kuliah jangan tujuannya ijazah, karena ijazah itu konsekuensi kuliah. Kalo kuliah, ya kuliah saja yang bener. 

Misalnya, kita kerja yasudah kerja saja, yang penting kita bekerja bukan karena terpaksa, nah yang namanya kerja pasti dapat uang, maksudnya tidak perlu kemudian menjadikan tujuan kita adalah uang, fokus kita adalah pada apa yang kita kerjakan, berikan yang terbaik, jadikan bekerja sebagai amanah supaya nanti kerja kita ikhlas, kalo ikhlas hasilnya berkah.

Jadi prinsip ini yang sebetulnya diterapkan oleh Cak Nun, hingga ia sering disebut sombong karena Cak Nun sering mengatakan, bahwa ia selama hidup di dunia tidak akan pernah mencari uang. Menurutnya, uang adalah efek moral dari sebuah pekerjaan. Misalnya, bekeja sebagai supir, itu meskipun tidak mencari uang, pasti dapat bayaran.

Menurutnya, kita tidak perlu menjadi makhluk yang merendahkan diri dengan mengejar-ngejar yang namanya uang, karena kita lebih tinggi derajatnya daripada uang. Yang kita perlukan adalah bagaimana supaya kita menjadi sebuah kepribadian dengan sifat, sikap dan perilaku yang membuat uang mengejar kita. Misalnya apa yang disebut sebagai amanah.

Jadi orang akan merasa aman dengan kita. Kalau orang nitip motor kepada kita orang percaya motornya tidak akan rusak, tidak akan dipakai yang tidak-tidak. Orang yang menitipkan jabatan kepada kita, orang merasa aman kepada kita. Asal kita membuat orang aman, kita akan dipercaya. Kita bisa membuat segala sesuatu stabil, maka kita tidak mesti mencari uang, karena uang akan sibuk mencari kita. 

Maksudnya, jangan menyibukan diri, sibuk hatinya, pikirannya, darahnya, emosinya, batinya, jiwanya, sholatnya, kepada uang, karena derajatnya uang itu mencari kita. "Manusia derajatnya adalah dicari oleh dunia. Kita tidak punya derajat yang rendah untuk mencari dunia, kalau menurut Allah seperti itu" ujar Cak Nun. 

Jadi sesungguhnya dengan kita tidak terlalu berkonsentrasi mencari uang, sesungguhnya uang yang datang kepada kita jauh lebih banyak dari pada kita sibuk mencari uang, ini namaya ekonomi siklikal, jelasnya.