Konten [Tampil]
Ilustrasi/sumber:pixabay.com

Soryy yee, demikian mungkin kata yang pas untuk diucapkan kepada seorang pencaci. Jadi hidup ini kadang serba salah, di mata orang yang salah, saat susah dijauhi, saat berhasil dicurigai. Saat bodoh dihindari, saat pintar dibenci. Tapi ini bukan tentang saya, ini tentang orang-orang yang pernah merasakan itu. 

Dalam hidup ini pasti akan ada banyak masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan uang. Meskipun, banyak yang membantah, oh tidak bisa, uang adalah segalanya, dan tidak ada masalah yang tidak selesai dengan uang. Ya, kalimat ini biasanya keluar dari orang amatir yang mungkin baru merasakan punya uang.

Cacian muncul biasanya bukan karena ia ingin mencaci, tapi ada sesuatu yang membuat orang lain ngiri. Berarti saat Rocky Gerung caci Jokowi, itu ngiri? ini beda cerita, kerna itu berkaitan Jokowi sebagai presiden bukan sebagai personal. Caci itu ucapan yang keluar dari seseorang kepada orang lain secara personal, itu caci.

Kapan seseorang dicaci, dan kapan seseorang dipuji?

Kata caci dibagi menjadi dua, ada cacian keras dan ada cacian halus. Cacian keras diucapkan secara ekstrim secara langsung sehingga membuat orang lain sakit hati. Sedangkan cacian halus, diucapkan secara satir dengan kalimat merendahkan tapi tanpa menyebutkan namanya, kalau zaman sekarang mungkin disebut toxic.

Lawan kata dari cacian adalah memuji, kata kerjanya memuji atau dipuji. Dua-duanya adalah kalimat yang diucapkan oleh seseorang kepada orang lain. Bedanya, cacian bisa membuat luka dan pujian bisa membuat senang. Tapi orang bijak berprinsip "Dicaci takan tumbang, dipuji takan mabuk", ya biasa-biasa saja menyikapinya.

Jadi itu bedanya orang yang bijak dan orang yang mudah terbakar amarahnya. Jadi bedanya kita dengan orang bijak, mereka tetap tenang dalam bersikap. Bagi mereka tenang adalah separuh dari cara untuk menguasai setiap keadaan. Jadi tetaplah tenang selagi cacian itu hanya sebatas ucapan. Senyum mungkin adalah senjata paling ampuh menghadapi orang semacam itu.

Pernah dicontohkan oleh manusia agung nomor satu di dunia, beliau nabi kita Muhammad SAW. Semoga sholawat serta salam selalau tercurahkan kepadanya, keluarga dan sahabatnya. Nabi Muhammad pernah menerima cacian yang pada saat ia baru menerima wahyu, dan mulai menyebarkan agama Islam. Dan ini, penting untuk kita tauladani. 

Waktu itu, orang-orang Qurasy mencacinya karena tidak suka kepadanya. Orang Quraisy menganggap bahwa ajaran Islam yang dibawanya akan menjadi ancaman bagi mereka, sehingga mereka benci kepadanya. Beliau, dicaci maki dengan kata-kata kasar, mungkin kalau kita yang di posisi beliau saat itu, kita akan marah kepanasan.

Tentu saja beliau tidak pernah membalasnya, beliau tetap fokus pada aktivitasnya. Ketika itu, Nabi Muhamad tidak membalas caci maki Abu Jahal, melainkan tetap berdoa memohon perlindungan kepada Allah. Bahkan, beliau justeru memohon ampun bagi Abu Jahal, dan orang-orang Quraisy lainnya yang memakinya. Masyaallah ...

Cacian adalah tantangan, bahwa ada sesuatu nilai dalam diri kita yang tidak bisa orang lain lakukan. Karena orang mencaci pasti ada sebabnya, dan biasanya caci maki itu karena orang lain ngiri pada kita. Maka, meskipun kita tidak secara utuh menauladani Nabi Muhammad kita bisa tetap tenang, dan menghiraukannya, selama tidak melakukan sesuatu yang membahayakan diri kita. 

Pun halnya saat dipuji, kita jangan berbangga diri, karena justeru pujianlah dapat menjatuhkan kita. Maka, tetaplah bersikap rendah hati, jangan takabur atas kelebihan yang kita miliki. Sebaliknya, jadikan kelebihan yang kita miliki itu untuk mebantu orang lain. Kita bisa mencontoh dari sikap Abu Bakar ketika dipuji oleh umat muslim lainnya. Abu Bakar tidak suka dipuji berlebihan, hingga saat itu, ia tidak nyaman, dan mengambil lumpur dan melemparnya ke mukanya sendiri. 

Di era sekarang, menolak dipuji berlebihan bukan saja karena takut takabur dan sombong. Tetapi, menolak dipuji adalah nagian dari pertahanan diri. Maka saat dipuji, janganlah berbangga diri, dan sombong, karena pujian dapat membuat kita mabuk, dan hilang kendali. Kondisi ini biasanya ada orang yang mencoba memanipulasi kita, supaya kita merasa senang kepada mereka, sedang mereka punya tujuan tidak baik kepada kita. Ini bukan temtaang suudzon, tapi tentang antisipasi. Meskipun, tidak semuanya begitu, tetaplah berprinsip "Dicaci takan tumbang, dipuji takan mabuk".