![]() |
Ilustrasi berhenti membaca/pixabay.com |
Sudah bisa membaca, tapi berhenti membaca sama saja tidak mengamalkan kemampuan membacanya. Dulu waktu kecil kita belajar supaya bisa membaca, dari mengeja huruf, hingga akhirnya lancar membaca. Tapi setelah sudah lancar membaca, malah berhenti membaca, berarti hasil dari belajar membaca itu tidak kita amalkan dan kita memilih menjadi bodoh.
Membaca itu adalah kemampuan dasar. Membaca adalah langkah awal untuk mengetahui banyak hal. Membaca juga bisa disebut sebagai alat, alat untuk kita mengetahui berbagai mecam fenomena. Artinya dengan terus membaca, maka terus menambah wawasan dan pengetahuan tentang apa yang belum kita ketahui.
Jika membaca dapat menambah wawasan, berarti dengan berhenti membaca sama saja berhenti untuk menambah wawasan. Jika individu-individunya berhenti membaca kemudian berkumpul membentuk masyarakat, kemudian jadilah sebuah bangsa, maka bangsa itu membentuk pula bangsa yang tidak berwawasan, tidak berpengetahuan.
Bangsa yang tidak berwawasan, berarti bangsa yang bodoh, jika bangsanya bodoh maka akan ada banyak masalah bahkan jutaan masalah. Konsekuensi menjadi bangsa yang bodoh karena tidak membaca itu banyak, menyakut seluruh aspek kehidupan. Contoh yang paling sederhananya mudah ditipu, dimanipulasi, dimanfaatkan, diberdaya, bahkan dimiskinkan.
Ini adalah gambaran bahwa begitu luar biasanya efek yang ditimbulkan jika kita berhenti membaca. Mirisnya, persoalan itu bukan sekedar gambaran, melainkan sebuah fakta yang hari ini dialami oleh bangsa Indonesia. Bayangkan saja, dari 1.000 orang, hanya ada 1 orang yang gemar membaca. Maka dari 280 juta penduduk Indonesia, yang memilih menjadi bangsa yang cerdas hanya 280 ribu orang.
Masalah membaca timbul sejak dari individu, kemudian bertambah banyak hingga menjadi persoalan bangsa. Dan persoalan rendahnya minat membaca ini, menurut hemat saya, bukan karena tidak bisa membaca, bukan karena kekurangan buku, tapi karena rasa malas, tidak mau meluangkan waktu sedikitpun untuk terus membaca. Jangankan untuk membaca setiap hari, seminggu sekali pun sepertinya tidak pernah.
Jadi tidak heran, kenapa akhir-akhir ini Indonesia mengalami banyak sekali persoalan, mulai dari persoalan kemiskinan, pengangguran, pencabulan, pembunuhan, hingga penegakan hukum. Sebenarnya, tidak bisa sepenuhnya kita saling menyalahkan, karena persoalan-persoalan itu timbul karena kebodohan kita sendiri. Kita tidak memiliki keinginan untuk membaca, tidak mau berpihak di jalan kebenaran, sehingga kita gelap, sudah gelap pikir, akhirnya gelap hati, maka timbulkan masalah berikutnya.
Berbagai persoalan itu timbul karena kita kurang membaca, sehingga pengetahuan kita juga kurang, nalar kiritisnya juga kurang. Seseorang yang tidak memiliki ketertarikan pada pengetahuan biasanya rentan tergelincir, menyimpang, karena tidak punya prinsip nilai-nilai. Ingat, membaca itu banyak sekali manfaatnya. Membaca mampu meningkatkan fungsi otak, meningkatkan kemampuan berfikir kritis, dan juga meningkatkan daya ingat.
Karena rendahnya minat membaca kita berpotensi menjadi bangsa yang bodoh, tertinggal, kurang mengerti banyak hal. Saking bodohnya, kita juga tidak memiliki nalar kritis dalam melihat berbagai persoalan. Karena kebodohan itulah kita juga tidak punya kemampuan memecahkan masalah, maka kita akan sadar setelah kita mengalaminya. Memang kurangnya pengetahuan seperti itu, baru sadar setelah sesuatu itu terjadi.
Tulisan ini hanya refleksi agar kita menyadari betul bagaimana pengaruh membaca terhadap kehidupan kita. Ini bukan tentang sekolah tinggi, tetapi tentang kemauan untuk terus belajar, dan kunci belajar apapun adalah membaca. Tidak ada yang lain, dengan membaca kita akan memiliki banyak ide, mengerti banyak hal, dan menumbuhkan kreativitas. Kita harus mulai membiasakan membaca sejak dalam diri kita, kemudian mengajak orang terdekat kita, mengajak keluarga dan masyarakat.
Jika semuanya senang membaca, maka pengetahuannya akan bertambah, sehingga obrolannya juga juga lebih berbobot, dan timbul harapan, persatuan, gotong-royong membentuk masyarakat dan bangsa yang berperadaban. Untuk menjadi orang, masyarakat, bangsa yang berwawasan luas, sebenarnya kita tidak mesti sekolah tinggi-tinggi, cukup bisa membaca huruf, kemudian mau membaca berbagai buku, maka kita akan memiliki wawasan luas.
Mari kita mulai membiasakan membaca buku tentang berbagai topik, tentang politik, ekonomi, sosial, hukum, filsafat, kebudayaan, pokonya semua yang menyangkut kehidupan kita senagai manusia harus kita dibaca, agar kita mempunyai cara pandang yang luas terhadap kehidupan yang kita jalani ini. Adapun soal membaca buku yang kita sukai saja, itu hanya alternatif atau cara agar kita gemar membaca. Kita harus membaca berbagai buku, karena persoalan yang kita hadapi ini kompleks. Untuk itu mari kita sadari akan pentingnya membaca, dan itu harus kita mulai sejak dari diri kita sendiri.
Tidak ada komentar