Konten [Tampil]
Kantor Desa Cikareo, Kec. Cileles, Kab. Lebak/sumber foto:google maps.

Cikareo merupakan salah satu desa  dari 12 desa yang ada di Kecamatan Cileles Kabupaten Lebak, Banten. Lokasinya tepat berada di Balai Desa Pasar Sajir sebelah Selatan Kantor Koramil Cileles atau sekarang di sebrang Alfa Midi.  Desa Cikareo merupakan pemekaran dari Desa Margamulya, yang terletak di Lebak Gempol Margamulya. Awalnya Desa Margamulya ini terlalu luas sehingga perlu pembentukan desa baru agar mempermudah dalam mengelola pelayanan masyarakat. Jalan kecamatan dan desa pada waktu itu masih batu dan jalan ke pelosok-pelosok kampung pun masih tanah.  

Struktur organisasi Desa Cikareo pada masa kepemimpinan jaro Asja, terdiri atas BPD (Ali Rahmat), Sekretaris Desa (Deni Agung Pratama), Sekretaris BPD ( Dewi Sri Mulyani), Kaur Umum (Warno Heriyanto), Bendahara (Muslim), Staf Kebersihan (Lena Triana), Kasi Pemerintahan dan Trantib (Bamas Prayoga),  Kasi Ekbang dan Kesra (Priatna AG), Staf Pengolah Data (Didin Hilmansyah), Ketua RW 001 bernama  Asra, terdiri dari (Ketua RT 001 bernama Kusni, RT 002 Acang, Ketua RT 003 Ma’ruf, Ketua RT 004 Agus S, Ketua RT 005 Suherman, dan Ketua RT 006 Palahudin). Ketua RW 002 bernama Arida Bahtiar, terdiri dari (Ketua RT 001 Sahrani, ketua RT 002 Jamali, Ketua RT 003 E. Junaedi, Ketua RT 004 SA’I, Ketua RT  005 Herman).  Ketua RW 003 bernama Turmudi, terdiri dari Ketua RT 001 Muhamad Amar, Ketua RT 002 Edeng, Ketua RT 003 Suryani, Ketua RT 004 Hotib).  Ketua RW 004 bernama Saleh terdiri dari (Ketua RT 001 Ajat, Ketua RT 002 Nurwaseh).

Luas wilayah Desa Cikareo 2065,04 Ha dan jumlah penduduk 4.777 jiwa, yang terdiri dari 17 RT dan 21 RW. Batas-batas wilayah Desa Cikareo yaitu: sebelah Utara berbatasan dengan Desa Cipadang, sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Kujangsari, sebelah Barat berbatasan dengan Desa Pasindangan, dan sebelah Timur berbatasan dengan Desa Parungkujang (Sumber: Kantor Desa). Kepala desa  dipilih secara langsung oleh rakyat, tetapi pada waktu itu bukan melalui pemilihan umum melainkan dipilih secara langsung dan disaksikan oleh semua anggota masyarakat.

Desa Cikareo mengenal dua macam musim yaitu musim panas (kemarau) yang terjadi berkisar bulan Mei sampai dengan Desember, sedangkan musim dingin atau hujan terjadi berkisar bulan Januari sampai dengan April. Dengan curah hujan yang terkesan tidak merata berdampak pada kurang tersedianya air pada penduduk, termasuk ternak dan tumbuhan. Walaupun demikian, diwilayah Desa Cikareo masih terdapat sumber mata air yang cukup besar debitnya. Ada suatu kebiasaan dalam masyarakat bahwa pada saat musim kemarau, penduduk termotifasi untuk mengolah tanah pertanian lahan kering dan berternak. Sedangkan pada musim hujan penduduk giat menanam kebunnya dengan berbagai jenis tanaman pangan, termasuk membajak sawah untuk mengatasi kesulitan pangan yang dihadapi oleh petani semasa terjadi kekurangan pangan.

Pada umumnya wilayah Desa Cikareo terdiri dari tanah dataran rendah  umumnya merupakan areal pertanian dan perkebunan dengan struktur tanah rata-rata campuran dan lumayan subur, yang dimanfaatkan warga sebagai lahan pertanian, peternakan dan pemukiman. Dalam setiap tahun masyarakat menggunakan musim kemarau untuk membersihkan lahan pertanian tersebut untuk persiapan menanam jagung, ubi-ubian, kacang-kacangan dan tanaman lainnya dalam membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga setiap harinya, dan hasil yang didapat cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Pertanian yang berada didaerah ini hampir sebagian besar pertanian penduduk baik berupa sawah-tadah hujan yang luasnya mencapai 296 Ha, dan  tanah kering terdiri dari tegal/ladang luasnya mencapai  167,34 Ha, pemukiman luasnya mencapai 612 Ha dan pekarangan luasnya mencapai 38 Ha kemudian tanah basah, dan tanah  perkebunan. Tanah perkebunan terdiri dari kelapa, kelapa sawit dan karet. Jenis  kepemilikan tanah tersebut  yaitu tanah perkebunan  rakyat dengan luasnya mencapai (246 Ha), tanah perkebunan negara (590,65Ha), tanah perkebunan milik swasta dan tanah perkebunan perorangan (836,65 Ha), serta tanah pasilitas umum terdiri dari tanah kebun desa dengan luas (0,25 Ha).  Lapangan olahraga (5 Ha), perkantoran  pemerintah dengan (7 Ha), tempat pemakaman desa/umum (6 Ha), Bangunan sekolah  (5 Ha) seperti SD Negeri 1 Cikareo, SD Negeri 2 Cikareo, SD Negeri 3 Cikareo SD Negeri 4  Cikareo  dan SMP Negeri 1 Cileles yg  terletak  di  desa  Cikareo. Kemudian pertokoan (1 Ha) yang terletak di Pasar Sajir, Fasilitas pasar dengan luas (0,5 Ha), Jalan (26 Ha), dan Usaha perikanan (2 Ha).

Keadaan iklim di Desa Cikareo dengan curah hujannya mencapai (18,00 mm), jumlah bulan hujan (5 Bulan), kelembaban,  suhu  rata-rata harian  mencapai (25,5 Celcius), dan dengan  ketinggian tempat  mencapai ( 100 MDPL) kemudian jenis dan kesuburan tanah di  desa cikareo terdiri dari warna tanah  merah, tekstur tanah lempung dan berpasir. Selanjutnya  topografi  Desa Cikareo bentangan  wilayahnya dengan luas aliran sungai mencapai (27 Ha) kawasan perkantoran luasnya (7  Ha) dan pertokoan/bisnis dengan luas (1,5 Ha) kemudian  jarak antara anatara kantor desa ke kota kecamatan mencapai (0,5 km), jarak ke kabupaten/kota  mencapai (43 km), lama  jarak tempuh ke ibu kota kabupaten dengan kendaraan  bermotor mencapai 1  jam,  lama jarak tempuh  ke Ibu kota kabupaten dengan  berjalan kaki  atau kendaraan non bermotor mencapai 5,4 jam, menggunakan kendaraan umum ke ibu  kota kabupaten 7 unit. Kemudian jarak  ke ibu  kota provinsi  mencapai 126  km, lama jarak tempuh  ke ibu  kota provinsi dengan kendaraan bermotor mencapai 2,5 jam.

Potensi pertanian yang ada di desa cikareo yaitu  pertanian  terdiri dari  tanaman  pangan 656 < 5 Ha, keluarga yang memiliki lahan 656, keluarga yang tidak  memiliki  lahan  622 KK dan total  keluarga petani 656,KK Tanaman buah-buahan 784 < 5 Ha, keluarga yang memiliki lahan 784,keluarga yang tidak memiliki  lahan  494 dan  total keluarga petani 784. Kemudian tanaman perkebunan terdiri dari 784 <5 Ha, keluarga yang memiliki lahan 784, keluarga yang tidak  memiliki lahan 494,  dan total keluarga petani  784. Jenis komonditas yang dibudidayakan  di desa cikareo  adalah  pisang dengan luas  48 Ha, dan  hasil  panen mencapai  8 ton, rambutan  dengan luas lahan 8,7 Ha,manga 4,3 Ha, Pepaya 3,5 Ha, Durian 6,3 Ha, Sawo 2,7 Ha, Duku 3 Ha, Kokosan, 5 Ha, Nangka 7 Ha, Jambu Air 3 Ha, Sirsak 2 Ha, Kedongdong 2 Ha, Melinjo 2 Ha, dan Jambu kelutuk 2,5 Ha.  

Sejarah Berdirinya Desa Cikareo

Desa cikareo mulai berdiri pada tahun 1963 dengan kepala desanya yang kedua bernama jaro Japar, sedangkan kepala desa yang pertama, penulis masih belum mendapatkan keterangan. Jaro Japar menjabat sebagai kepala Desa Cikareo kurang lebih 5 tahun. Setelah jaro japar kemudian jaro Nurad, juga menjabat selama 5 tahun, kemudin Dur said, menjabat selama lima tahun, kemudian Muhamad Sidik juga menjabat selama 5 tahun, kemudian Markusen juga menjabat selama 5 tahun, kemudian Jaro Sapri menjabat selama dua periode (10 tahun), jaro Asja (10 tahun) dan jaro Rikrik Nugraha (sekarang, 2024).  

Gedung Kantor Desa Cikareo pertamakali didirikan di tanah yang sekarang menjadi Pasar Sajir, kemudian dipindahkan ke tanah kontrak perkebunan sawit sebelah Selatan hingga sekarang. Jaro Japar digantikan oleh jaro M. Sidik pada tahun 1978. Pasar Desa Cikareo tersebut dibangun pada masa pemerintahan jaro M. Sidik. Keadaan pasar ketika itu masih belum terdapat toko-toko seperti sekarang, tetapi masih berupa saung-saung yang dibuat menggunakan bambu dan daun sagu (kiray) sebagai atapnya.

Di Desa Cikareo juga pernah berdiri Sekolah Rakyat (SR). Sekolah rakyat tersebut sengaja didirikan untuk masyarakat setempat untuk yang ingin sekolah agar mampu membaca aksara. Walaupun sudah didirikan sekolah rakyat tetapi pada waktu itu sedikit sekali masyarakat yang sekolah. Sekolah rakyat ini kemudian berkembang menjadi Sekolah Dasar (SD) yang dipelopori oleh seseorang bernama Marjuana. Ia mengubah Sekolah Rakyat menjadi sekolah dasar pada tahun 1963. Sekolah dasar adalah  nama baru yang dulunya bernama sekolah rakyat. 

Ketika itu masyarakat yang ada di desa cikareo jarang sekali yang sekolah bahkan yang sekolah pun banyak  yang berhenti sampai kelas tiga, kelas empat, dan yang  sampai lulus itu hanya sebagian orang saja. Hal itu dikarenakan kesadaran masyarakatnya terhadap pendidikan masih kurang, mereka seolah tidak mau maju karena dan memilih unutk melanjutkan pekerjaan yang biasa dilakukan oleh orang tuanya yakni sebagai buruh tani.  

Kebiasaan yang sering  dilakukan oleh masyarakat  desa cikareo terutama ketika perayaan hari besar nasional seperti 17 Agustus 1945 hari kemerdekaan Indonesia. Masyarakat Desa Cikareo sangat antusias terhadap perayaan tersebut, masyarakat desa cikareo biasanya  merayakan kemerdekaan dengan menampilkan kebudayaan salah satunya adalah menampilkan kuda lumping dan debus yang  biasa  digelar  di Balay Desa Cikareo.  Acara ini sangat meriah karena  banyak masyarakat yang menyaksikan acara tersebut bukan hanya masyarakat desa cikareo saja bahkan  dari desa –desa tetangga seperti dari desa Pasindangan, desa  Parungkujang, desa Margamulya, desa Cipadang dan desa lainnya.  

Penampilan kuda lumping dan  debus tersebut sangat menghibur  terutama anak-anak bahkan sampai orang tua senang menyaksikan acara tersebut, contoh dari aksi debus tersebut seperi berjalan di atas beling, memakan arang api, bacok membacok, dan debus-debus lainnya. Namun, saat ini penampilan budaya setiap 17 Agustusan tersebut sudah tidak ada lagi, dikarenakan sudah tidak ada generasi yang mau mempelajarinya.  

Sebagian besar penduduk desa cikareo adalah bertani atau mengolah tanah, hal ini di dukung oleh kondisi iklim dan curah hujan yang lumayan tinggi sepanjang tahun sehingga penduduk mayoritas bermata pencaharian sebagai petani, tetapi ada juga sebagai pedagang dan buruh.  Penduduk desa Cikareo sebagian besar adalah penduduk asli. Sedangkan, penduduk lokal yang mendiami wilayah desa Cikareo umumnya tinggal diwilayah perkampungan. Salah satu faktor penting yang menunjang tercapainya pembangunan adalah pendidikan tanpa pendidikan tidak akan menrcapai tujuan yang di inginkan atau di cita-citakan. 

Sejarah Perkebunan Karet di Desa Cikareo 

Perkebunan Sawit yang ada di wilayah Kecamatan Cileles, khususnya di Desa Cikareo sekarang dulunya pada zaman Belanda adalah perkebunan karet. Penduduk Cikareo diduga adalah pendatang yang bekerja di perkebunan Belanda. Setelah kemerdekaan, perkebunan karet diganti menjadi sawit.

Pekerjaan sehari-hari penduduk ini adalah sebagai penyadap karet, inilah salah satu sumber penghasilan penduduk yang dianggap paling utama walaupun tidak menentu karena harus sesuai kondisi iklimnya karena ketika musim hujan mereka tidak bisa menyadap karetnya, karena ketika pohon karet disadap pada musim hujan maka getah karet tidak akan memadat karena bercampur dengan air hujan. 

Harga getah karet perkilogramnya naik turun. Dulu pernah di harga 15 ribu perkilo, kemudian turun lagi hingga 2 ribu perkilo. Saat ini, di tahun 2004, harga getah karet mulai membaik dengan harga 10 ribu perkilo. 

Perkebunan karet sebagai komoditi yang dianggap penting dan merupakan salah satu faktor yang menentukan pertumbuhan ekonomi. Begitu juga dengan perkebunan karet PT. Perkebunan Nusantara VIII yang terletak di desa Desa Cikareo Kecamatan Cileles yang sekarang menjadi perkebunan sawit yang mampu meningkatkan jumlah tenaga kerja serta mengurangi pengangguran pada masyarakat, khususnya di Desa Cikareo. 

Perkebunan karet PT. Perkebunan Nusantara VIII yang berdiri sejak tahun 1915 yaitu pada masa pemerintah Hindia Belanda dengan nama ”Rubber Onderneming” Bojongdatar “Eigenaar Nv.Cultur Maatschappij Bojongdatar” yang merupakan kantor perwakilan Handel Indusrti dari Lanbouw Maatschappij Mw Tiendeman dan Van Kerchem NV. 

Pada tahun 1980 PT. Perkebunan Nusantara VIII mulai mengalihkan komoditi tanam perkebunan karet menjadi perkebunan sawit, adapun alasan utama pengalihan tersebut menurut Bapak Udin dikarenakan karena hasil kelapa sawit lebih menjanjikan dibandingkan dengan hasil getah karet. 

Selain hasilnya lebih besar, biaya perawatan kebun kelapa sawit juga lebih murah dibandingkan dengan biaya perawatan tanaman karet, karena hal tersebut tidak lepas dari masa tanam sawit yang lebih cepat dari karet, untuk sawit masa tanam mencapai 2,5 tahun dengan usia tanaman sawit rata-rata mencapai 25 tahun. Sehingga dengan masa tanam sawit yang lebih cepat dari pada karet maka sawit bisa cepat dipanen dan diproduksi dan penjualan sawit lebih cepat dibandingkan karet. 

Untuk perkebunan sawit sendiri pencapaian produksinya sekitar 1.772 Ton/tahun dengan harga Rp. 1200/kg, sehingga untuk menjaga keamanan perkebunan tersebut setiap titik wilayahnya (padeling) diisi oleh keamanan yang terdiri dari 7 (tujuh) security yang dibantu oleh centang dari masyarakat sekitar. 

Tumbuhnya kegiatan perekonomian di desa Cikareo Kecamatan Cileles dengan adanya perubahan komoditi tanam perkebunan karet ke perkebunan sawit oleh PT. Perkebunan Nusantara VIII membawa akibat terjadinya interaksi dua pola budaya, yaitu budaya lokal dan budaya industri

Sepenggal Kisah dari Kampung Somangan 

Kampung Somangan terletak di Desa Cikareo Kecamatan Cileles Kabupaten Lebak. Kampung Somangan berada di pedalaman tepatnya berada di tengah perkebunan sawit bojong datar dan perkebunan coklat di belah selatan (perkebunan topasari). Perkebunan topa sari merupakan perkebunan tanaman coklat yang berada di desa pasindangan. Somangan termasuk kampung yang masyarakatnya masih memegang teguh adat-istiadat warisan orang tua zaman dulu. 

Hal  itu terwujud dari berbagai kehidupan sehari-hari, dengan adanya berbagai  larangan yang bersifat sakaral  yang teguh oleh masyarakat setempat secara  turun-temurun dan relatif terjaga keasliannya, contohnya larangan bermain ketika maghrib karena mitosnya takut  di bawa kelong (setan), larangan membuat  wc menghadap ke  kiblat karena kiblat itu merupakan letak ka’bah, larangan untuk makan sambil berdiri karena mitosnya makan sambil berdiri takut jadi kuda atau makan sambil berdiri itu adalah perbuatan syetan, larangan untuk memukul gendang, karena dapat mengundang syetan, larangan anak gadis untuk duduk di depan pintu, karena mitosnya takut mau nikah tapi tidak jadi. 

Kampung somangan dari jalan raya Gedung Serbaguna Kantor Kecamatan kedalam perkebunan sawit sekitar ± 3,5 km.Jalan ke kampung somangan merupakan jalan buntu dan sulit dilalui ketika musim hujan karena jalannya yang becek dan tanjakan  yang lumayan terjal. Jumlah rumah waktu itu sekitar tahun 1997 ± 40 rumah, kemudian Pada tahun 2000 kp ini dilanda musibah/ gempa bumi secara tiba-tiba dengan diiringi hujan lebat. Masyarakat pada waktu itu sangat kepanikan, karena datangnya tiba-tiba dan  terdengar suara-suara seperti pohon dipatah-patahkan, itu merupakan suara pergerakan lempeng tektonik.  

Gempa itu terjadi pada hari kamis malam Jumat tahun 2000. sebagian rumah parah  terutama lantai dan tembok runtuh  akibat  terbelahnya tanah, hewan-hewan seperti kambing pada waktu itu banyak yang mati karena masuk  ke dalam  rekahan tanah. Penduduk kemudian di alihkan oleh pemerintah setempat ke perkebunan sawit. Pada waktu itu masyarakat untuk sementara diungsikan di sebelah timur yakni tanah milik perkebunan sawit. Mereka tinggal di saung-saung yang terbuat dari kayu dan bambu dengan beratapkan daun kiray (sagu) dan tempat tidur seadanya. Di kemudian, tempat pengungsian ini dinamakan Pamatang Sarimi. Disebut Pamatang Sarimi karena banyak sekali orang dari luar yang menyumbang mie instan ke tempat pengungsian.  

Dari pemerintah sendiri pernah mendapatkan bantuan langsung seperti pakaian, dan makanan yang disalurkan pemerintah langsung kepada korban gempa. Lamanya pengungsian tersebut kira-kira 8 bulan, kemudian setelah itu sebagian masyarakat ada yang kembali ke tempat asalnya, dan sebagiannya lagi pindah ke tempat baru dan membuat sebuah perkampungan  yang  sekarang menjadi Kp. Somang Jaya, berlokasi di bekas pabrik getah karet yang dibuat pada penjajahan kolonial  Belanda. Pada waktu itu penduduk asli somangan hanya tersisa 6 rumah, jadi somangan sebenarnya ada dua somangan dan somang jaya. Somang jaya terletak di dekat Kp. Bedeng Opat, Desa Cikareo sebelah Selatan Kantor Polisi Cileles. Menurut Santa (sekarang sudah wafat, warga Kp. Somangan) pada awalnya somangan bukan merupakan kampung, melainkan “tempat pangelian” atau menurut warga setempat artinya tempat persembunyian zaman Belanda. Seiring berjalannya waktu, masyarakat kemudian membentuklah perkampungan seakrang Kp. Somangan.  

Nama somangan itu sendiri artinya asal makan/yang penting makan. Masyarakat somangan pada awalnya  merupakan masyarakat yang berasal dari  Cimuncang. Pada waktu itu taraf hidup masyarakat sangat rendah sehingga untuk memunuhi kebutuhan hidup sehari-hari saja sangat susah karena masih di jajah oleh Belanda. Kemudian Jalan menuju kp ini sangat memprihatinkan jalannya batu, tanah dan melewati perkebunan sawit, dan harus ditempuh dengan waktu yg lumayan lama. Perkebunan itu sebelumnya bukan perkebunan sawit tetapi merupakan perkebunan karet pada masa penjajahan  Belanda.

Jejak Historis Penjajahan Belanda di Desa Cikareo

1. Taman Sari

Di  tengah perkebunan sawit  terdapat sebuah pemandian para tuan/para pimpinan Belanda pada waktu itu. Pemandian tuan itu bernama taman sari dan sampai sekarang pun masih ada tetapi sudah tidak terlihat karena posisinya berada di dataran rendah sehingga sudah tertimbun oleh tanah. Taman Sari adalah kolam/sumur bekas peninggalan belanda. Taman sari ini terletak di tengah perkebunan karet, yang kemudian sekarang menjadi perkebunan sawit, (perkebunan bojong datar) tepatnya di belakang polsek cileles. 

Disebut taman sari karena tempatnya seperti taman dengan sumber mata air yang jernih membuat orang yang melihatnya ingin mandi di situ. Sayangnya tempat itu di anggap mistis oleh warga setempat karena setiap orang yang mandi di situ akan sakit mendadak dan warga setempat sering melihat penampakan. Hingga sekarang taman ini masih di anggap keramat oleh warga setempat, meskipun keberadaannya sudah tertimbun tanah akibat dari pembaruan penanaman pohon sawit. 

2. Pabrik Karet

Bekas peninggalan belanda selanjutnya adalah Pabrik karet. Pabrik ini merupakan sebuah gedung peninggalan belanda yang ada di Desa Cikareo tepatnya di Kp. Somang Jaya. Walaupun bangunan tersebut sudah tidak utuh tapi setidaknya sisa-sisa bangunan ini masih ada. Pabrik ini merupakan pabrik pertama bekas peninggalan belanda. sampai sekarang masih ada sisa-sisa bekas bangunan tersebut dengan pusat kontor besarnya berada di saketi.

Dak atau Coran Bekas Bangunan Pabrik Karet di Desa Cikareo/dok.Pribadi.

Gambar tersebut merupakan bangunan, dak atau coran yang dijadikan sebagai alas mesin pabrik pada waktu itu. Di tempat tersebut juga terdapat besi-besi kecil sebagai struktur coran di bekas pabrik tersebut juga  terdapat ditemukan sisa peralatan rumah tangga seperti piring, gelas, dan kendi yang terbuat dari tanah liat. Bekas pabrik ini dulunya adalah bernama kampung cimuncang. Setelah kemerdekaan di pelosok-pelosok desa ternyata belanda masih menjalani kekuasaannya di Indonesia. Menurut keterangan masyarakat, pada waktu itu belanda menguasai wilayah sekitar desa Cikareo sekitar tahun 40an. Masa penjajahan belanda pada waktu itu sangat keras, warga peribumi di jadi pegawai buruh belanda di perkebunan karet dengan upah satu ringgit. Satu ringgitnya senilai 3 sen uang logam bolong atau 5 pada masa pemerintahan raja Whelmina dibawah kepemimpinan KI Pantil, KI Parang dan Satiller, waktu itu.

Struktur bangunan Pabrik Karet peningglan Belanda di Kp. Somang Jaya/dok.pribadi tahun 2017.

Struktur bangunan tersebut terdiri atas semen sebagai perekat, batu kali, dan pasir. Strukturnya sudah tidak utuh lagi karena dihancurkan oleh masyarakat sekitar dengan di ambil  batunya untuk membangun jalan warga.

3. Kantor Pos Perkebunan 

Pos Perkebunan Sawit/dok.Pribadi tahun 2017.   

Neglasari juga merupakan gedung kantor bekas peninggalan belanda yang ada di Desa Cikareo. Gedung ini merupakan pusat pemerintahan belanda di bawah pimpinan KI Pantil, Satiller dan KI Parang. Gedung ini awalnya berada di perkebunan sawit, jalan menuju Kp. Somangan, tetapi bekas bangunan awal tersebut sudah tidak ada. Karena jalan ke Kp. Somangan itu buntu dan sulit di jangkau sehingga kemudian pemerintah belanda memindahkannya ke, sebelah Selatan dari kantor Polsek Cileles sekarang.